Day 04 – Tentang hal Kemarin Itu

BANDUNG, VAT – (09/12/2014) Semua tentang hal itu tentunya. Namun, aku binggung saat aku membuka mataku dan memandang kelangit-langit dari kamarku. Terasa semuanya begitu hampa. Aku bahkan hampir binggung tentang semua ini.

Aku merasa kesepian, aku binggung akan apa juga yang harus aku lakukan. Namun, kenapa tiba-tiba ada seseorang yang datang, dan berusaha menolongkuu disaat setiap hal buruk terjadi padaku.

Siapa dia sebenarnya? Datang menghampiri hidupku, yang mana aku baru mengenalnya beberapa waktu itu. Tapi, dia sudah ada dihadapanku. Menolong tanpa aku meminta untuk menolong. Menemaniku disaat aku kesepian tanpa aku berikan kode untuk menemaniku.

‘tak biasanya juga aku berani untuk dekat dengan seseorang yang baru aku kenal. Aku juga terkadang heran tentang dirinya yang belum pernah aku temui sebelumnya, dan yang belum pernah aku dekati. Namun, entah mengapa aku ingin terus mengingatnya.

“Ah, sudahlah. Aku harus melupakannya. aku pernah berjanji untuk tidak pernah menyukai siapapun.” ucap diriku dalam hati sambil melemparkan handuk yang kugunakan untuk mengelap rambutku setelah mandi ini.

‘tak terasa udara dingin di pagi ini sungguh membuat badan ini gemetar. Namun, udaranya yang sejuk membuatku merasa nyaman.

06.09 | Sudah waktunya untukku bergegas pergi kesekolah.

Aku ‘pun kemudian berjalan menuju sekolah yang cukup dekat dengan tempat yang kuhuni sementara ini. Namun, diperjalanan aku melihat seorang anak kecil yang membawa seekor kucing di tas yang ia kenakan, dan belanjaan didalam kantong plastik di gengaman tangan kanannya.’tak ada keluhan yang muncul dari mulutnya. Dia ‘pun juga terlihat amat bahagia dan dengan adiknya menuju kesuatu tempat. aku pikir mereka menuju kerumahnya.

Seorang anak yang berusia 6 tahun dan seorang adiknya yang berusia 3 tahun. Menjalani kehidupan mereka seperti itu. Tanpa keluhan. Namun diriku? Ketidaksukaanku membekas dan membuat diriku seperti orang asing di tengah kerumunan yang aku kenali.

Aku kemudian terus melanjutkan langkahku dan sampai di sekolah yang selalu aku tuju. Tanpa bosan, aku memasukinya. Seperti biasa, aku masuk ke ruang kelas. Aku duduk, aku menaruh tasku disampingku, membuka buku pelajaran, membaca, bel berbunyi, guru memasuki kelas, dan istirahat, dan itu berulang hingga akhirnya aku mengakhiri kelasku.

Aku kemudian menggenggam tasku, dan bergegas untuk pulang. Tapi, dari kejauhan terlihat seseorang melambaikan tangan kepadaku. Aku cukup terkejut karena biasanya tidak ada yang melakukan hal itu kepadaku, dan dia orang pertama yang melakukannya.

Siapa itu ya?

Kemudian orang tersebut mendekat, dan tahu siapa yang ada di depanku? Salah! Dia adalah Mervyna. Seorang anak kelas XI IPA-B yang cukup pintar. Seorang atletis dan penari balet. Memiliki tubuh yang lentur dan seseorang yang kreatif dalam bidang Desain. Banyak pria yang mengaguminya. Tapi, kenapa dia ada dihadapanku sekarang?

Heii, kamu Alex?” ucap perempuan itu.

Iya benar, kamu Mervyna ‘kan? Ada apa?”

“U-hmm-m.. Aku ingin bertanya sesuatu. Apakah kamu pacarnya Serina?”

“Hah?”

Spontan aku kaget, sebab Serina adalah seseorang yang baru aku kenal. Bagaimana mungkin aku bisa berpacaran dengan dirinya.

Aduh, maaf tadi aku spontan. Buk–ka-n-bukan. Aku baru saja mengenalinya beberapa hari lalu.Mana mungkin aku menjadi pacarnya.” jawabku tanpa berpikir panjang.

Oh maaf kalau begitu. Aku mengira kamu pacarnya. Soal’a kemarin aku lihat dirimu di Pluit Village berjalan berdua bersamanya. Aku kira kalian sudah jadian disaat itu.”

“Uhm.. tentang itu. Enggak kok, enggak… Itu hanya kebetulan sebab aku sedang mencari suatu barang dan dia juga sedang mencari buku untuk persiapan UAS nantinya.”

“Oh begitu, maaf sekali lagi.” ucap Mervyna.

Iya ‘tak apa. Oh ya, memangnya ada apa dengan Serina?” tanyaku dengan raut wajah yang sedikit mengkerut.

Tentang itu … Dia tadi pagi bertengkar dengan Ibunya. Dan, dia pergi dari rumah. Dan, tidak ada satupun yang tahu dimana dia.”

“Lho? Kok bisa begitu. Memangnya ada apa antara dia dan Ibunya?”

“Tentang itu… Aku tidak diberitahukan oleh Ibunya apapun. Namun, Ibunya sangat mengkhawatirkan dia. Ibunya mencoba menghubungi teman-teman sekolahnya, tapi tidak ada satupun dari mereka yang tahu. Aku kira awalnya kalian berpacaran. Jadi, ‘ku pikir tentunya kamu tahu dimana dia sekarang.”

“Uhm.. tentang itu aku kurang tau. Maaf ya, tapi nanti bila aku tahu. Aku akan memberitahukannya kepadamu.”

Serina pergi dari rumah? Serina bertengkar dengan Ibunya? Ada apa sebenarnya? Tapi, mungkinkah dia ada ditempat yang dia beritahukan kepadaku sebelumnya?.

“Oke deh, makasih ya Lex.”

Mervyna ‘pun pergi memsuki gedung sekolah lagi, dan aku memutuskan untuk pergi ke tempat yang kemarin sempat ia ceritakan.

Aku melihatnya dari kejauhan. Dia berada di atas tebing batu yang menghadap ke bawah lautan tersebut. Aku datang menghampirinya, dan kemudian merebahkan diriku dan memandang langit sambil berkata :

Ini memang tempat yang terindah untuk melihat Sunset ya”

Serina terkejut karena aku berada disampingnya dan berbicara seperti itu.

Kaa-mmu..? Sedang apa disini?” ucap Serina terbata-bata dengan bekas air mata yang menetes dipipinya.

Gapapa kok. Kamu terlihat seperti habis menangis? Kamu habis bertengkar dengan Ibumu lagi?”ucap diriku.

K–aa-mm-u..? Tahu darimana? Pasti dari Mervyna?”

“Iya, aku mendengar begitu. Sebenarnya, apa yang terjadi antara kamu dan Ibumu? Apakah masih tentang hal kemarin yang kamu ceritakan?”

Serina hanya diam dan merundukkan kepalanya. Kemudian, air mata kembali turun dari bola matanya.

Aku, dulu sempat memiliki Ayah juga.”

“S–em–pa-t?”

“Ya, aku sempat meiliki Ayah. Ayahku meninggal baru-baru ini. Sudah kiranya 2 bulan lalu. Aku juga sempat mengatakan kepada Ibuku untuk tidak menikahi orang lain lagi, ataupun dekat dengan seorang pria. Namun, mungkin itulah yang Ibuku juga mau. Namun, ada hal yang tidak bisa kita prediksi. Ada hal yang tidak selalu bisa terkabulkan.”

Aku menarik nafas dan membuangnya.

“Ya, ayahku merupakan seorang pria yang baik. Bahkan bagiku merupakan Ayah yang sungguh amat baik. Ayahku memang pernah memarahiku. Ya, itu karena aku bandel. Tapi, ada hal unik yang aku pikir tidak semua Ayah memilikinya. Ayahku setiap kali setelah memarahiku, dia pasti akan selalu memelukku pada malam hari dan mengatakan bahwa dia meminta maaf kepadaku karena telah memarahiku. Namun, siapa yang tahu akan umur seseorang.”

Serina hanya tetap merundukkan kepalanya sambil menghapus air matanya,

Dia pergi meninggalkan kami karena sebuah sakit yang tidak aku kira. Cukup singkat. Hanya satu hari masuk Rumah Sakit. Kemudian, dia pergi meninggalkan kami. Aku cukup sering juga merindukannya dia. cukup sering untuk tidak rela kalau dia harus pergi dari dunia ini dengan cepat.”

“Tapi …”

“Tapi apa?”

“‘tak apa.”

“Dasar dirimu ini. Nih …” ucap diriku sambil menyodorkan sebuah sapu tanganku.

Aku bahkan tidak tahu, kenapa aku dapat berkata seperti. Tidak seperti diriku biasanya. Aku baru pertama kali mengatakan hal seperti itu kepada orang yang bukan keluargaku.

“Terima kasih Lex. Maaf.”

Ya, ‘tak apa-apa kok. Aku mengerti akan perasaanmu. Jadi bagaimana?”

“Bagaimana apanya?”

“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

“Aku tidak tahu.”

“Cepat kenakan tasmu, rapihkan rambutmu, dan bergegaslah pulang kerumahmu. Ibumu pasti mengkhawatirkan dirimu.”

“Apakah benar?” tanya Serina dengan wajah penasaran, namun masih dibaluti tetesan air mata dipipinya.

Iya benar, terlihat raut wajah Ibumu yang amat mengkhawatirkan dirimu.”

“M-aa-aff Ibu.”

Dia berteriak sambil menangis dan kemudian memelukku. Aku sungguh binggung. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku hanya berpikir bahwa aku hanya perlu menepuk pundaknya seperti yang pernah aku baca dalam Novel-novel.

“M-aa-aaf… Aku tidak sengaja.”

Ya, ‘tak apa. Kalau begitu, ayo pulang. Aku temani kamu pulang. Lagipula rumahmu dengan tempat yang kutinggal tidak jauh kok.”

Serina hanya menganggukkan kepalanya, memakai kembali tas dan Sweaternya dan berjalan bersamaku menuju rumahnya.

19.02 | Lex, makasih ya. Maaf sudah menyusahkan dirimu. Terima kasih ya sudah mengantarku kerumahku. Maaf sekali lagi telah merepotkan dirimu.”

“Ya, ‘tak apa-apa kok. Tetap tersenyum ya. Dan jangan lupa katakan hal yang tadi sudah aku beritahu.”

“Iyaa!” jawab Serina dengan wajah yang begitu cantik saat dia tersenyum.

Kalau begitu aku pulang dahulu ya. Sampai jumpa dan terima kasih ya sekali lagi Lex.”

Aku hanya menganggukkan kepalaku dan melambaikan tangan. Lambaikan perpisahan untuk diriku kembali ke tempat yang biasanya aku kunjungi saat aku sudah pulang dari sekolah.

20.43 | Aku masuk kedalam kamar mandi. Sambil bertanya-tanya terhadap diriku.

Apakah mungkin ini yang namanya Cinta? Haha, aku tidak mempercayainya. Sudah, lupakanlah. Itu hanya halusinasiku saja mungkin.

Aku kembali membersihkna rambutku. Dan membilasnya dengan air beberapa kali.

Tidak, tidak mungkin aku bisa menyukai seseorang. Itu mustahil. Lagipula, dia hanya seseorang yang baru aku kenal, sama seperti yang aku katakan kepada Mervyna. Bahwa dia tidak mungkin menjadi pacarku. Sudah, aku harus melupakan tentang kata-kata itu.

Aku mengenakan baju yang kukenakan untuk tidur. Dan seperti biasanya, aku tidur sambil menyalakan musik. Dan aku hanya berharap hari ini aku dapat bermimpi indah.

If you Like this, Please Share :) Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on TumblrShare on LinkedInShare on VK

About VictorAlexander

Hello! My name is Victor Alexander, my nickname is Ito. Nice to meet you! I'm still a student at Telkom University. And, i want to be like much thing! :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *